BarronMadridista.COM, MADRID - Ramalan publik yang telah mengemuka sejak awal Desember 2015 akhirnya menjadi kenyataan.
Zidane memang sudah dikaitkan dengan jabatan pelatih
Madridsejak beberapa waktu lalu, terutama saat manajemen klub mendepak
Carlo Ancelotti pada musim panas 2015.
Namanya muncul sebagai salah satu kandidat pengganti terkuat sebelum posisi tersebut jatuh ke tangan Benitez.
Sosok pria berkebangsaan
Prancis itu dianggap pantas mengambil alih tampuk kepelatihan
Los Blancos alias Si Putih.
Mengapa publik bisa sebegitu yakin terhadap Zidane? Perlu diingat bahwa ia sama sekali belum pernah menangani tim besar karena rekam jejaknya baru sebatas asisten pelatih Madrid (2013-2014) dan pelatih
Real Madrid Castilla (2014-2015).
Terdapat satu alasan besar yang membuat publik begitu yakin terhadap kapasitas kepelatihan
Zidane, yaitu nama besar semasa berkarier di lapangan hijau.
Hal ini berimbas kepada tingkat respek pemain sewaktu berinteraksi dengannya.
Respek merupakan sesuatu yang penting di
Madrid mengingat berjubelnya pemain bintang dalam skuat.
×Powered By CapricornusBenitez tak memiliki karisma sebesar
Zidanesehingga sebagian besar personel tim terbiasa memandang dia dengan sebelah mata.Kehadiran Zidane juga turut mengembalikan cita rasa
Ancelotti, yang dirindukan oleh sejumlah pemain, mulai dari Sergio Ramos, Marcelo, James Rodriguez, hingga Cristiano Ronaldo.
Pengalaman setahun menjadi tangan kanan
Don Carlo tentu memberikan pengaruh signifikan terhadap gaya kepelatihannya.
“Banyak pekerjaan yang mesti segera kami lakukan. Saya siap mengerahkan seluruh kemampuan demi membantu mengeluarkan potensi terbaik setiap pemain,” ujar
Zidane seperti dikutip dari situs klub.
Berdasarkan catatan sejarah,
Zidane merupakan pelatih ke-11 di masa kepresidenan Florentino Perez.
Dia juga teridentifikasi sebagai pemenang Piala/Liga Champion kelima semasa bermain yang menduduki kursi kepelatihan setelah Miguel Munoz, Amancio Amaro, Luis Molowny, dan Alfredo Di Stefano.
Bayang-bayang kesuksesan menaungi
Zidane lantaran hampir semua nama pendahulunya tersebut berhasil mempersembahkan minimal satu trofi.
Hanya Amancio yang gagal berprestasi semasa melatih Madrid (1984-1985).